Semakin Luas Area Hijau Bikin Anda Lebih Bahagia

http://oh-gitu.blogspot.com/Oh~Gitu ~ Baru-baru ini dilakukan suatu penelitian yang menunjukkan, mereka yang hijrah ke daerah yang lebih hijau merasa lebih bahagia untuk waktu yang lama.

Kembali ke alam memang baik untuk kesehatan jiwa Anda, menurut sebuah penelitian baru yang menganjurkan pentingnya taman-taman perkotaan dan alasan lain untuk mempromosikan nilai lahan hijau.

Hampir 80 persen populasi di negara-negara berpenghasilan menengah atau tinggi tinggal di perkotaan, di mana masalah depresi merupakan kekhawatiran besar dalam sektor kesehatan publik. Taman, kebun, dan ruang alam tidak selalu ada di dekat penduduk.

Beberapa studi mengindikasikan adanya keterkaitan antara ruang hijau dan kebahagiaan. Namun, para peneliti belum mendapatkan hubungan sebab akibat dari kedua hal itu. Mathew P White dan para koleganya di University of Exeter, Inggris, memutuskan untuk meneliti kemungkinan tersebut.

Mereka membandingkan kesehatan jiwa ratusan orang Inggris yang telah pindah dari lingkungan perkotaan ke tempat yang lebih hijau dengan mereka yang melakukan hal sebaliknya.

Data-data yang dikumpulkan selama lima tahun menunjukkan bahwa orang-orang yang telah pindah ke wilayah lebih hijau ternyata lebih bahagia dan tetap bahagia setelah mereka pindah.

Dalam laporan pada jurnal Environmental Science & Technology, para peneliti menyimpulkan, "kebijakan-kebijakan lingkungan untuk meningkatkan ruang hijau mungkin dapat memiliki manfaat-manfaat kesehatan jiwa yang berkesinambungan".

sumber: http://health.kompas.com/read/2014/01/13/0944435/Ruang.Hijau.Lebih.Luas.Bikin.Anda.Lebih.Bahagia

Dampak Kurang Tidur Setara Dengan Dipukul

Oh~Gitu ~ Dampak negatif kurang tidur dan terkena pukulan ternyata sama berbahayanya bagi otak. Menurut hasil penelitian, kondisi keduanya sama-sama menghasilkan senyawa kimia, yang mengindikasikan otak dalam kondisi bahaya.

Menurut para ahli dari Uppsala University, Swedia, Christian Benedict, senyawa tersebut adalah NSE dan S-100B. "Adanya racun dalam otak diindikasikan dengan NSE dan S-100 B yang meningkat. Tidur memungkinkan pembersihan otak dari racun, yang ditandai menurunnya kedua senyawa dalam otak," katanya.

Menurut Benedict, hasil riset ini mendukung studi sebelumnya yang mengatakan, otak menggunakan tidur untuk membersihkan dirinya. Hasil riset juga mendukung studi yang menghubungkan peningkatan risiko Alzheimer, Parkinson, dan multiple sclerosis, dengan kekurangan tidur.

Peningkatan produksi NSE dan S-100 B, kata Benedict, meningkatkan risiko kehilangan jaringan otak. Hal ini lebih mungkin terjadi pada orang yang kurang tidur, meski dalam kondisi sehat dan berusia muda.

"Pada akhirnya, riset ini membuktikan pentingnya kualitas tidur demi kesehatan otak yang lebih baik," kata Benedict, yang risetnya dimuat dalam jurnal Sleep.

Saat ini sekitar sepertiga penduduk Inggris menderita penyakit akibat kekurangan tidur. Kebanyakan orang rata-rata hanya tidur 7 jam sehari. Padahal beberapa dekade yang lalu seseorang bisa tidur hingga 9 jam sehari.

Hal ini diperparah dengan pola tidur yang tidak teratur. Peneliti percaya, pola tidur yang tidak teratur dan kurang dari seharusnya, mengakibatkan beragam penyakit yang diderita masyarakat saat ini. Penyakit ini mulai dari sekedar pegal atau sakit di bagian tertentu, hingga serangan jantung.

Kurang tidur juga berakibat buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Tidur kurang dari 8 jam saat malam hari berisiko menurunkan nilai intelligent quotient (IQ) keesokan harinya.

sumber: http://health.kompas.com/read/2014/01/06/0832311/Dampak.Kurang.Tidur.Sama.Seperti.Kena.Pukulan

Manfaat Beras Merah, Coklat, dan Padi Liar

Oh~Gitu ~  Nasi (beras) merupakan makanan pakok yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Bahkan di Indonesia, ada ungkapan yang mengatakan, "belum makan kalau belum makan nasi." Padahal diketahui, makanan pokok bisa juga berasal dari kentang, gandum, ubi, dan panganan berkarbohidrat lain.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dari kebiasaan makan nasi. Kendati demikian, menurut studi tahun 2012 dari peneliti asal Harvard, orang yang makan nasi putih lebih sering memiliki risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi daripada mereka yang lebih jarang. Karena itulah, para peneliti menyarankan untuk mengganti nasi putih dengan nasi coklat yang merupakan biji-bijian utuh dengan kandungan serat yang lebih banyak, serta dapat mengurangi risiko diabetes.

Ada banyak varietas beras yang memiliki manfaat serupa dan dapat dicoba, antara lain beras hitam, cokelat, bahkan padi liar. Berikut manfaat dari ketiganya.

1. Beras merah
Beras merah dikenal juga dengan istilah beras ungu atau beras hitam. Menurut sebuah studi, beras merah mengandung kadar antioksidan yang lebih tinggi daripada bluberi atau brokoli.

Beras merah merupakan beras yang pada aleuronnya mengandung gen yang memproduksi antosianin yang merupakan sumber warna merah atau ungu. Jika dibandingkan dengan beras putih, kandungan karbohidrat beras merah lebih rendah, namun menurut penelitian, nilai energi yang dihasilkan beras merah justru di atas beras putih. Selain itu, beras merah lebih kaya serat dan protein.

Kendati demikian, beras merah berbeda dengan ragi beras merah, bahan utama dari suplemen penurun kolesterol.

2. Padi liar
Jika beras putih dan beras merah termasuk dalam bergenus Oryza, maka padi liar termasuk ke dalam genus Zizania, meskipun masih dalam satu suku Oryzeae. Padi liar dijumpai di air dangkal dan aliran yang mengalir perlahan.

Padi liar mengandung protein, serat, potasium, magnesium, dan niasin yang lebih tinggi dari beras coklat dan 30 kali lebih tinggi kandungan antioksidannya dibandingkan beras putih. Sejatinya, padi liar tidak menghasilkan beras, namun biji-bijian dari rerumputan semiakuatik.

3. Beras coklat
Beras coklat adalah beras yang hanya dihilangkan sekamnya, namun tidak dipoles menjadi beras putih. Beras coklat dan beras putih memiliki kandungan kalori, protein, dan lemak yang sama seperti beras putih. Hanya saja, beras coklat lebih banyak kandungan seratnya sehingga memiliki indeks glikemik yang lebih rendah.

Fitonutrien dalam beras coklat berkaitan dengan penurunan risiko kanker, diabetes, dan penyakit jantung. Karena merupakan biji utuh, lemak dari beras coklat bisa membusuk, maka penyimpanannya pun perlu di tempat yang kering dan sejuk untuk memperlama usianya.

sumber: http://health.kompas.com/read/2013/12/31/1002226/Manfaat.Beras.Merah.Coklat.dan.Padi.Liar

Mungkinkah Kita Bisa Menghapus Memori Buruk?

http://oh-gitu.blogspot.com/2014/01/mungkinkah-kita-bisa-menghapus-memori.html
Oh~Gitu ~ Setiap orang pasti pernah memiliki pengalaman yang tidak menyenangkan, dan sebagian dari pengalaman tersebut bahkan bersifat traumatis. Berangkat dari itulah, sebuah studi baru yang dipublikasi dalam jurnal Nature mencari cara untuk "menghapus" memori buruk sehingga membantu orang untuk memperbaiki kesehatan mentalnya.


Para peneliti menemukan, menghapus memori mungkin dapat dilakukan dengan menggunakan electroconvulsive therapy (ECT). ECT selama ini digunakan untuk mengobati gejala depresi parah. ECT bekerja dengan memicu penyusutan pada otak sehingga dapat meringankan gejala depresi.

Kendati demikian, efek samping dari ECT adalah dapat menghilangkan sebagian memori. Namun, efek samping tersebut justru dimanfaatkan peneliti untuk menghilangkan sebagian memori yang berdampak traumatis.

"Ini terdengar seperti science fiction, seperti di film ada orang kehilangan ingatannya sehingga tidak saling mencinta lagi, dan seseorang yang kehilangan memorinya untuk memulai sebuah kehidupan yang baru," ujar Keith Ablow, psikiater dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, yang tidak terlibat dalam studi.

Studi yang dipublikasi dalam jurnal Nature tersebut melakukan percobaan pada orang yang menjalani prosedur ECT untuk mengobati depresi. Sebelum menjalani prosedur, pasien diceritakan tentang kisah yang traumatis, seperti seorang anak yang harus menjalani amputasi kaki, dan sebagainya. Seminggu kemudian, setelah menjalani ECT, mereka diminta untuk menceritakan kembali kisah tersebut.

Namun ternyata, mereka tidak mampu menceritakannya kembali. Dengan kata lain, kemampuan mereka untuk mengingat menurun drastis sehingga dipastikan ada penyusutan pada otak.

Ini artinya, kini manusia sudah dapat menemukan cara untuk menghilangkan memori buruk yang pernah menimpa mereka. Misalnya, memori tentang kecelakaan atau perang yang menimbulkan trauma dapat "dihapus" dari otak seseorang.

Kendati demikian, psikiater M Scott Peck memperingatkan untuk selalu melihat sisi negatif dari sebuah penemuan. Ketika "penghapusan" memori tersebut terlalu jauh dilakukan, dikhawatirkan bukan hanya rasa sakit yang "hilang", melainkan juga kemampuan merasakan hal lainnya, termasuk kenikmatan.

sumber: http://health.kompas.com/read/2013/12/31/1228117/Menghapus.Memori.Buruk.Mungkinkah.

Mengenal Golongan Parabombay, Golongan Darah Yang Langka

http://oh-gitu.blogspot.com/2013/12/mengenal-golongan-parabombay-golongan-darah-yang-langka.htmlOh~Gitu ~ Secara umum, masyarakat hanya mengenal golongan darah berdasarkan jenis antigen dan rhesus. Untuk jenis antigen, golongan darah terbagi atas A, B, AB, dan O. Sedangkan untuk rhesus, yang didasarkan atas ada tidaknya antigen D, terbagi atas positif dan negatif.


Golongan darah A misalnya, memiliki antigen A di permukaan sel darah merahnya (eritrosit). Selanjutnya bila ditemukan antigen D, maka golongan darah tersebut menjadi A+. Adanya antigen A menyebabkan tubuh membentuk antibodi B. Sementara adanya antigen D menyebabkan tubuh tidak membuat antibodi. Dengan sifat seperti ini maka golongan darah A+, hanya bisa menerima dan menyumbang kepada golongan yang sama.

Sayangnya, sistem ini seolah tidak berlaku saat dihadapkan pada golongan darah langka, yang disebut parabombay. Parabombay sekilas mirip golongan darah O. Namun saat diteliti lebih jauh terdapat perbedaan pada antigen dengan golongan darah O pada umumnya. Akibatnya, sel darah bisa mengalami kehancuran (lisis) bila bercampur dengan golongan darah yang tidak sama. Bila tidak diketahui, penderita yang menerima tranfusi darah tidak sesuai bisa mengalami pendarahan, syok, hingga kematian.

“Parabombay sebetulnya adalah sistem penggolongan darah lain. Untuk Taiwan, sebagai negara yang paling dekat dengan Indonesia, angka prevelensi parabombay adalah 1:8.000. Sementara India, tempat pertama kali ditemukan parabombay, angka persebarannya adalah 1:10.000. Indonesia sampai saat ini belum ada datanya, namun tentunya tidak jauh beda dengan negara Asia lainnya,” kata Direktur Unit Donor Darah Pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Yuyun SM Soedarmono, pada KOMPAS Health Senin (23/12/2013).

Yuyun menjelaskan, golongan darah parabombay sekilas tampak tidak punya antigen A atau B. Kondisi ini mirip seperti golongan darah O, sehingga tidak heran bila parabombay kerap dimasukkan dalam golongan darah O. Setelah diteliti lebih, parabombay ternyata memiliki antigen namun tidak terlihat di permukaan eritrosit.

Golongan darah O, jelas Yuyun, sebetulnya memiliki antigen yaitu H yang kemudian menghasilkan antibodi. Antigen ini bisa bersifat heterozigot (Hh) atau homozigot (HH/hh). Antigen heterozigot atau homozigot HH bisa terlihat di permukaan eritrosit dan menjadi golongan darah O seperti biasanya.

Kondisi ini tidak terjadi pada golongan darah parabombay. “Parabombay memiliki antigen homozigot hh, yang tidak bisa terlihat di permukaan. Kondisi ini baru akan terlihat bila darah kemudian lisis walau diberi donor dari golongan yang sama. Kondisi juga bisa terlihat melalui uji khusus antigen,” kata Yuyun.

Hal ini serupa dengan yang tercantum dalam situs National Centre for Biology Information (NCBI). Dalam salah satu bahasan dikatakan, parabombay menunjukkan adanya antigen H dan aktivitas anti-H yang lemah. Kondisi ini hanya bisa terlihat pada suhu 4°C, atau menggunakan teknik absorpsi dan elupsi. Akibatnya parabombay kerap dimasukkan dalam golongan darah O.

Sebagai golongan darah yang jarang dimiliki, PMI pun tidak memiliki donor atau stok darah parabombay. “Saat ini dalam data kita hanya ada dua donor parabombay, yang berdomisili di Jakarta dan Solo. Kita juga tidak memiliki stok darah sesuai, karena memang permintaannya sangat jarang. Selain itu umur darah tidak lama hanya 28-35 hari,” kata Yuyun.

Meski begitu, Yuyun mengatakan, sebetulnya tidak ada masalah dengan golongan darah parabombay. Pemilik golongan darah ini masih bisa hidup sehat dan normal, layaknya golongan darah lain. Masalah baru muncul jika golongan darah parabombay membutuhkan tranfusi, dikarenakan jarangnya donor yang tersedia.
Donor untuk pemilik darah parah parabombay biasanya berasal dari keluarga sendiri. “Untuk pemilik darah parabombay yang membutuhkan tranfusi, sebaiknya segera cari di keluarganya. Dalam keluarga bisa dipastikan ada yang memiliki golongan darah sama,” kata Yuyun.

Tak bergantung ras
Penyebaran golongan darah parabombay sama sekali tidak bergantung ras. Penyebaran semata bergantung pada jenis antigen yang dimiliki. Bila pemilik golongan darah O berantigen Hh menikah dengan orang dengan golongan darah sama, maka kemungkinan 25 persen anaknya memiliki golongan darah O parabombay. Tentunya, pemilik antigen Hh bisa berasal dari dalam atau luar Indonesia.

Hal ini jelas berbeda dengan penggolongan berdasarkan rhesus. “Dalam rhesus, kemungkinan besar rhesus negatif dimiliki warga Amerika, Eropa, atau Australia. Sedangkan orang Indonesia sebagian besar berhesus positif. Parabombay sama sekali tidak bergantung pada ras, semata jenis antigen yang ada,” kata Yuyun.

sumber: http://health.kompas.com/read/2013/12/23/1657187/Mengenal.Golongan.Darah.Langka.Parabombay

Gejala Kecanduan Internet Seperti Kecanduan Narkoba

Oh~Gitu ~ Diciptks and Telecommunications Systems di Chennai, India. Penelitian ini melihat penggunaan internet pada 69 mahasiswa selama dua bulan.

http://oh-gitu.blogspot.com/2013/12/gejala-kecanduan-internet-seperti.html
Pada awal penelitian para mahasiswa tersebut diberikan Internet Related Problem Scale (IRPS) yang berbentuk pertanyaan sebanyak 20 buah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merefleksikan kebiasaan dan karakteristik yang muncul pada gejala kecanduan dan diukur dengan skala 0 sampai 200. Gejala-gejala ini antara lain introversi, toleransi, pelarian diri, penarikan diri, rating tentang kehilangan kontrol, dan waktu yang diambil dari kegiatan sehari-hari.

Dilansir medicaldaily pada Selasa (24/12/2013), hasil menunjukkan bahwa skor IRPS berkisar dari 30 hingga 134 dengan skor rata-rata 75. Pemakaian internet pada mahasiswa berkisar antara 140 megabytes sampai 51 gigabytes, dengan rata-rata penggunaan sebanyak 7 gigabytes.

Penggunan internet pada mahasiswa-mahasiswa tersebut meliputi browsing, bermain game, perpesanan, media sosial, dan unduh file. Peneliti juga menemukan korelasi antara hasil survey IRPS dengan hasil penelitian. Misalnya pada mahasiswa menghabiskan 25% waktu penggunaan internetnya dengan instant messaging memiliki kecenderungan untuk introvert.

Sementara itu, bermain game, perpesanan, dan browsing memiliki kaitan dengan skor IRPS yang tinggi. Email dan jejaring sosial ternyata berkaitan dengan mahasiswa dengan skor IRPS rendah.

"Ada 5 sampai 10 persen pengguna internet yang menunjukkan adanya ketergantungan. Penelitian pada pencitraan otak menunjukkan penggunaan internet yang berlebihan dapat membuat perubahan jalur saraf reward otak (brain reward system) yang juga ditemui pada pecandu obat-obatan," ujar Dr. Sriram Chellapan, asisten profesor pada Computer Science di Missouri University of Science and Technology.

Ia juga mengatakan bahwa meski kecanduan internet kurang ditangani secara serius, efek negatif yang ditimbulkan ternyata bisa lebih berbahaya daripada kecanduan obat-obatan. Meski begitu, para peneliti yang terlibat menyatakan bahwa hasil riset ini masih perkiraan karena tidak ditemukan efek sebab akibat. Hal ini disebabkan dari banyak siswa yang menunjukkan gejala-gejala kecanduan mempunyai gangguan jiwa yang tidak mereka ketahui.

sumber: http://health.detik.com/read/2013/12/24/173805/2450976/763/orang-yang-kecanduan-internet-punya-gejala-seperti-kecanduan-narkoba?l992206755

 
Oh-Gitu © 2012 | Template By Arsip Sehat myfriend: Blog Asalasah | Asalasah.net | BigCendol | egp