Jadigitu.com ~
Selain berisiko kekurangan gizi akibat menyantap
makanan yang itu-itu saja, orang modern juga bisa
kelebihan gizi,
terutama dari suplementasi. Gizi yang berlebihan tentu saja sama tidak
sehatnya dengan kurang gizi.
Sebuah studi terbaru yang disajikan dalam
Journal of the American Dietetic Association, menegaskan bahwa kelebihan gizi akan berdampak buruk bagi kesehatan.
Studi
dengan survei terhadap lebih dari 1.500 orang dewasa di Kanada itu
dilakukan dengan mengamati konsumsi suplemen dan asupan makanan alami
para peserta. Seberapa sering mereka mengasup suplemen, makanan
sehari-hari apa saja yang sering dikonsumsi, serta merek dan dosis
suplemen yang mereka asup.
Para pengonsumsi suplemen tersebut
mengasup zat besi dan asam folat yang tinggi daripada mereka yang tidak
biasa mengonsumsi suplemen. Di sisi lain, lebih dari 47 persen dari
mereka mengonsumsi, terutama niasin, vitamin A, dan B6, dengan dosis
jauh lebih tinggi dari yang direkomendasikan US Institute of Medicine.
Meski belum pernah ada survei khusus, mungkin saja banyak dari kita yang
mengalami kelebihan berbagai zat gizi tersebut akibat mengonsumsi
suplemen tanpa pengawasan dokter.
Vitamin A
Vitamin
A (retinol) penting bagi perubahan cahaya, menjaga kesehatan kulit,
tulang, dan gigi, membantu memelihara membran mukosa pada sistem
pernapasan dan organ pencernaan, serta menangkal serangan infeksi
sehingga kerap disebut vitamin antiinfeksi. Vitamin A juga bersifat
antioksidan yang mampu menetralkan radikal bebas sehingga mencegah
jaringan dan sel dari kerusakan.
Vitamin A banyak kita dapatkan
dari makanan hewani, sedangkan dari produk nabati kita bisa memperoleh
betakaroten yang nantinya akan diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh.
Kebutuhan
terhadap vitamin A yang direkomendasikan ialah 800 mikrogram per hari
(mkg/hari) untuk wanita dan 1.000 mkg/hari untuk pria. Kelebihan vitamin
A dapat menyebabkan mual, pandangan kabur, kelainan pertumbuhan, rambut
rontok, lever dan limfa bengkak, cacat bawaan pada bayi, serta rapuh
tulang hingga mudah patah.
Vitamin B3
Niasin
(vitamin B3) diperlukan untuk mengubah protesin, lemak, dan karbohidrat
menjadi energi, membantu fungsi sistem pencernaan, serta mendukung
kesehatan kulit dan saraf. Dosis terbesar niasin yang sering kali lebih
dari 1.000 miligram per hari (mg/hari) dapat menurunkan kolesterol jahat
LDL dan trigliserida, sekaligus menaikkan kolesterol baik HDL. Namun,
konsumsi niasin dosis tinggi sebaiknya dengan pengawasan dokter.
Perempuan
normalnya mendapatkan 15 mg niasin per hari, sementara pria 15-19
mg/hari. Triptofan adalah asam amino yang berperan seperti niasin, dan
60 mg triptofan setara dengan 1 mg niasin. Mengonsumsi kelebihan niasin
dapat mengarah pada masalah jantung, timbul ruam, gatal-gatal, baal,
kulit terasa panas tetapi bukan demam, sakit perut, kerusakan hati,
gangguan otot, kembung, kulit kering, sakit kepala, sesak napas, dan
lain-lain.
Vitamin B6
Vitamin
B6 (piridoksin) berguna untuk membantu fungsi otak, mengubah protein
menjadi energi. Sinergi antara vitamin B6, B12, dan asam folat dapat
mengurangi kadar homosistein (asam amino) di dalam darah. Tingginya
homosistein dapat meningkatkan risiko serangan jantung.
Kebutuhan
vitamin B6 bagi perempuan sekitar 1,6 mg/hari, sedangkan bagi pria 2
mg/hari. Konsumsi vitamin B6 dosis tinggi, misalnya lebih dari 250
mg/hari, dapat menyebabkan kerusakan saraf, seperti kaki mati rasa,
sehingga sulit berjalan. Pada ibu hamil, kelebihan ini dapat mengganggu
pertumbuhan janin.
Yang alami lebih aman
Selama
masih bisa diperoleh dari sumber alami atau makanan sehari-hari, untuk
apa mendapatkan vitamin atau gizi lain melalui suplementasi. Mengonsumsi
suplemen sebetulnya tidak boleh sembarangan, tetapi terlebih dulu harus
dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi karena dapat mengganggu
kesehatan jika berlebihan.
Kelebihan
vitamin A dari sumber hewani
atau suplemen misalnya, dapat bersifat racun dan berbahaya terutama
selama kehamilan. Kelebihan betakaroten (vitamin A) sebetulnya tidak
akan meracuni, tetapi hanya membuat kulit misalnya berwarna kekuningan
(jingga). Keadaan ini bisa segera diredakan dengan mengurangi konsumsi R
betakaroten.
Makanan yang kaya vitamin A: hati, kuning telur, wortel, ubi jalar, mangga, melon, cabai, paprika, bayam, dan selada.
Makanan yang mengandung niasin (vitamin B3):
daging merah, ikan, hati, udang, susu dan produk olahannya, telur,
bayam, brokoli, asparagus, seledri, jamur, wortel, ubi jalar, kacang
merah, polong, kacang tanah, dan kedelai.
Makanan yang mengandung vitamin B6 (piridoksin):
daging ayam, sapi, ikan tuna, kakap, bayam, kentang beserta kulitnya,
ubi jalar, bawang putih, buncis, brokoli, kembang kol, asparagus, kacang
tanah, kacang mede, kedelai, kacang merah, pisang, alpukat, semangka,
melon, dan nanas.